
Oleh : Donny Wahyu SPt
Kebutuhan bibit sapi di suatu wilayah perlu diketahui untuk melakukan program replacement di wilayah tersebut. Natural Increase harus diambil untuk cadangan ternak pengganti dan sisanya dapat dikeluarkan tanpa mengganggu populasi ternak di wilayah tersebut. Natural Increase (NI) merupakan pertambahan populasi ternak pada suatu daerah yang disebabkan pertambahan populasi dari anak yang dihasilkan (bukan karena mutasi), tanpa memandang sistim perkawinan induk.
Kinerja reproduksi sapi betina adalah semua aspek yang berkaitan dengan reproduksi ternak. Estrus pertama setelah beranak dapat digunakan sebagai indikator penampilan reproduksi induk. Penampilan reproduksi sapi betina dapat dilihat dari estrus pertama, umur pertama kali kawin, S/C, kawin setelah beranak dan interval kelahiran (Hunter, 1981).
Conception Rate digunakan untuk menduga proporsi sapi betina yang diduga bunting pada inseminasi pertama. Pendugaan ini berdasarkan diagnosis rektal yang dilakukan pada 6 hingga 8 minggu setelah inseminasi. Angka kebuntingan lebih rendah jika sapi betina dikawinkan kurang dari 60 hari setelah melahirkan (Hafez, 1993).
Interval antara melahirkan dan munculnya estrus kembali setelah melahirkan (postpartum anestrus period) mempunyai kontribusi besar yang menentukan jarak kelahiran tersebut. Menurut pendapat Anderson, Burris, Johns and Bullock (1994), jarak bunting kembali untuk meningkatkan efisiensi reproduksi harus 80-85 hari setelah beranak, tetapi menurut hasil penelitian yang pernah dilaporkan menunjukkan bahwa PPI (Post Partum Interval) terjadi pada 30 sampai 170 hari. Penyebab kegagalan sapi bunting antara lain disebabkan karena deteksi estrus yang dilakukan peternak tidak tepat, umumnya akibat pengetahuan peternak masih kurang sedangkan faktor kegagalan sapi bunting lainnya antara lain dari usia sapi awal kawin (sapi dara), kecukupan gizi sapi betina, kemampuan petugas IB atau inseminator dan kualitas bibit jantan.
Pada bulan Agustus – September telah dilaksanakan Survei Pertumbuhan Populasi Ternak di Kota Batu. Ruang lingkup survei yaitu pada unit usaha (rumah tangga pemelihara, perusahaan berbadan hukum, dan lainnya) yang memelihara sapi perah dengan tujuan pengembangbiakan dan/atau pembibitan.
Lokasi survei adalah wilayah Kota Batu. Hal ini dikarenakan jumlah populasi dasar (tahun 2015) telah diketahui sampai dengan level desa. Untuk menghitung jumlah sampel yang diperlukan, digunakan rumus Taro Yamane (Taro Yamane, 1967).
Dari total sampel 210 RTP didapatkan total sapi perah 660 ekor, dimana 64 % diantaranya adalah sapi perah betina dewasa yang berumur 2-4 tahun sebesar 28 %, umur 4-6 tahun 27 % dan umur lebih dari 6 tahun sebesar 9 %. Dari data ini khususnya sapi perah, yang lebih penting adalah jumlah betina yang dalam keadaan bunting artinya adalah dengan data betina dewasa 56 % dari yang sedang bunting akan dapat mendukung produk susu.
Struktur Populasi Sapi Perah Hasil Survei di Kota Batu Tahun 2016
. Dewasa Muda Pedet Total
Jantan 8 15 63 86
. 1,2 % 2,3 % 9,5 % 13 %
Betina 422 39 113 574
. 64 % 5,9 % 17,1% 87 %
Jumlah 430 54 176 660
. 65,2 % 8,2 % 26,6 100 %
Dilain pihak dengan komposisi seperti itu, sangat menggembirakan bahwa sapi yang berumur 2-4 tahun menempati persentase yang besar, hal ini membuktikan sejumlah sapi yang ada dapat menjaga kestabilan populasi. Untuk estimasi pertumbuhan sapi perah yang menjadi fokus perhatian adalah jumlah sapi betina khususnya pada umur dewasa yang produktif. Dengan perkataan lain pengelolaan sapi betina dewasa menjadi sangat penting peranannya, karena sapi betina dewasa produktif merupakan tulang punggung pertambahan populasi secara alami.
Jumlah betina calon pengganti induk hanya tersedia 6,8 % dari jumlah betina dewasa atau 5,9 % dari populasi Kota Batu. Hal ini menunjukkan bahwa dimungkinkan ternak yang lahir pada saat musim kelahiran saat itu rendah yang tidak diketahui penyebabnya, namun demikian pada tahun berikutnya nampak tingkat kelahiran meningkat 3 kali lipat dengan jumlah pedet mencapai 17,1 %. jumlah betina calon pengganti induk perlu adanya perhatian khusus, apabila tidak diperhatikan pada 1-2 tahun mendatang akan kekurangan betina dewasa dan dampak selanjutnya pada tingkat pertumbuhan alami akan menurun serta berdampak pada produksi susu akan menurun pula.
Kekurangan betina dewasa dalam suatu populasi akan bedampak pada penurunan persentase kelahiran dan stock pedet calon pengganti. Keberhasilan pengembangbiakan ternak sangat ditentukan oleh struktur populasi, dimana seharusnya persediaan ternak calon pengganti minimal adalah sebesar 70% dari kebutuhan sapi dewasa (Gurnardi, 1998).
Kondisi ini perlu mendapat perhatian yang serius karena berhubungan dengan sapi betina pengganti (replacement stock) untuk perkembangbiakan di kemudian hari. Rendahnya proporsi pedet dalam populasi kemungkinan besar disebabkan oleh tuntutan kebutuhan peternak sehingga peternak harus melakukan penjualan pedet. Jalan keluar berupa kebijakan pemerintah untuk melakukan program pengamanan populasi harus dilakukan, misalnya melalui insentif bagi peternak.
Performans reproduksi digambarkan dengan parameter S/C (service per conception), APP (anestrus post partum), C.I. (calving interval). Prestasi reproduksi sapi perah pada dasarnya masih dalam kisaran normal, S/C 1,91 ± 0,43 kali sudah terjadi kebuntingan, jumlah akseptor IB sudah mencapai 100 %; pedet sudah berhenti mendapat susu maksimal 3,76 ± 0,5 bulan, sapi induk dikawinkan kembali 2,16 ± 1,56 bulan setelah beranak, sehingga kondisi seperti ini berdampak sapi betina melahirkan setiap 14 bulan. Untuk mengefektifkan daya reproduksi sapi betina dan agar supaya tingkat kelahiran bisa ditingkatkan adalah dengan memperpendek waktu kawin setelah beranak.
Peningkatan persentase kelahiran dari betina dewasa umur produktif, merupakan kunci utama dalam upaya meningkatkan jumlah pedet khususnya di wilayah yang disurvei. Dengan demikian bertambahnya pedet yang lahir akan menambah jumlah betina muda pada satu tahun berikutnya. Hal ini dimaksudkan untuk replacement stock induk umur 2 tahun dan menjaga kestabilan populasi dalam wilayah pembibitan. Rendahnya persentase betina muda di wilayah yang disurvei perlu diperhatikan karena dikhawatirkan terjadi pengurasan ternak muda keluar wilayah .
Berdasarkan hasil pendataan struktur populasi dan penampilan reproduksi sapi untuk evaluasi pertumbuhan disarankan untuk mempertahankan dan meningkatkan populasi sapi betina dewasa umur produktif lebih dari 70 persen pada setiap wilayah potensial dan pengembangan sapi perah, meningkatkan tingkat kelahiran dan menekan kematian sapi muda dan pedet, sehingga panenan pedet (Calf crop) tinggi dan diharapkan dapat menyediakan betina calon pengganti induk minimal sebesar 70 persen serta perlu upaya pendekatan secara edukatif dan secara kontinyu kepada peternak oleh petugas lapang, khususnya dalam hal efisiensi reproduksi
Donny Wahyu, SPt
Pengawas Bibit Ternak
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur
Daftar Pustaka
Gunardi, E. 1998. Teknik Penanganan dan Pengelolaan Ternak Ruminansia besar. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. PAU Bioteknologi IPB Bogor.
Hafez dan Jaenudeen. 1993. Cattle and Buffalo Reproductive Cycle dalam Reproduction In Farm Animal. 6th edition. Lea and Febinger. Philadelphia.
Hunter, R.H.F, 1981, Fisiologi dan Teknologi Reproduksi Hewan Betina Domestik. Penerbit ITB Bandung dan Universitas Udayana.
Berita
Info